Test The Water (CARA FITNAH PALING KEJAM DAN KEJI)

Renungan Pagi

“TEST THE WATER” ADALAH CARA FITNAH PALING KEJAM DAN KEJI

Akhir akhir ini kita sering mendengar kata kata baru yang muncul setelah adanya klarifikasi bahwa sebuah berita fitnah atau bohong telah terbukti atau diklarifikasi tidak benar, alih alih minta maaf dan mengakui kesalahannya si pelempar fitnah mengatakan bahwa yg kena fitnahlah yg menyebarkan fitnah atau berita bohong tersebut dan berlagak sebagai ‪#‎pahlawan‬ kebenaran… itulah istilah yg dipopulerkan dg nama “Test The Water”… fitnah berlipat
==================================================================
Imam Al- Qurthubi menerangkan kepada kita bahwasanya buruk sangka itu adalah melemparkan tuduhan kepada orang lain tanpa dasar yang benar. Yaitu seperti seorang menuduh orang lain melakukan perbuatan jahat, akan tetapi tanpa disertai bukti-bukti yang membenarkan tuduhan tersebut.
Allah Swt berfirman, “Hai orang- orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba- sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba sangka itu dosa. Dan janganlah mencari- cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Aadkah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al- Hujurat[49]

Ayat ini diperkuat dengan hadits Rasulullah Saw yang berbunyi, “Iyyakum wa dzana, fainna dzonna akdzabul hadits” yang artinya, “Jauhilah oleh kalian prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan paling dusta.” (Muttafaq alaih—Shahih)

Berdasarkan hal diatas sudah sangat jelas bahwa berprasangka buruk adalah suatu perbuatan yang sangat tercela dan diharamkan oleh Allah SWT, apalagi menyebarkan prasangka tersebut sehingga dia menjadi suatu berita fitnah yang sangat keji.

Kata fitnah di dalam bahasa Arab berarti namimah yaitu menyebarluaskan berita jelek atau cerita yang tidak benar tentang suatu hal atau orang lain, baik secara diam-diam maupun secara terbuka. Fitnah ini sebenarnya ditegakkan atas tiga perkara yaitu kedustaan, kedengkian dan kemunafikan. Fitnah sering terjadi ditengah-tengah kehidupan masyarakat. Fitnah tidak sekedar menyebarkan berita buruk, tetapi juga mengadu domba dan memutar balikkan fakta. Sehingga Allah SWT menggambarkan, bahwa fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.
Perhatikan Firman Allah SWT :
“Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah : 191)

Luka yang ditimbulkan oleh tajamnya pedang, mungkin masih bisa diobati. Tetapi luka yang ditimbulkan oleh tajamnya lisan (omongan, kata-kata) susah sekali dicari penawarnya. Itulah mengapa fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan. Saudaraku, seorang penyair Arab dalam sebuah syairnya mengatakan :
“Luka tombak ada obatnya. Luka lidah penawarnya tiada.”
Sementara dampak yang ditimbulkan oleh fitnah selalu negatif, tidak pernah ada yang positif. Karena itulah fitnah dikatakan berbahaya.

Adapun bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh fitnah antara lain sebagai berikut :
1. Menimbulkan kesengsaraan, baik bagi si pemfitnah maupun bagi yang di fitnah.
2. Menimbulkan keresahan ditengah masyarakat
3. Merusak sendi-sendi persatuan dan kesatuan
4. Mencelakakan orang lain
5. Merugikan orang lain dan diri sendiri
6. Masuk Neraka (mendapat siksa)
7. Diancam tidak masuk Syurga, sebagaimana Hadist Nabi SAW tersebut ini :
Rasulullah SAW bersabda :
“Tidak akan masuk Syurga orang yang suka adu domba (memfitnah).” (HR. Bukhari)

Lantas bagaimana cara menghindari penyakit fitnah itu ? Untuk menghindari penyakit fitnah itu ada beberapa cara yang dapat dilakukan, yaitu :
1. Selalu waspada dan hati-hati dalam setiap masalah
2. Jangan membuka rahasia (aib) orang lain
3. Menumbuhkan rasa persamaan dan kasih sayang sesama manusia
4. Mengamalkan ajaran agama
5. Membiasakan diri bersyukur kepada Allah SWT dan merasa cukup atas segala pemberian Allah.
6. Menjauhi seluruh penyebabnya, seperti mengikuti hawa nafsu, persaingan duniawi yang tidak bersih dan lain-lain
7. Berhati-hati dalam berbicara, bertindak dan dalam menerima kebenaran informasi.

Lantas apa yang kita lakukan kalua terlanjur berburuk sangka atau melakukan fitnah, dan ternyata terbukti bahwa apa yang kita sangkakan terseut terbukti tidak benar?
Allah berfirman dalam al Quran surat Ali Imran: 135

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135)
Orang yang mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri kemudian mereka segera meminta ampun kepada Allah dan tidak mengulangi lagi perbuatan itu.
Atau dengan kata lain bertaubat dari dosa yang telah diperbuat.

Lantas apa syarat dan cara bertaubat
SYARAT-SYARAT TAUBAT
Para ulama menjelaskan syarat-syarat taubat yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai berikut:
1. ِالإِقْلاَعُ(al iqla’u), orang yang berbuat dosa harus berhenti dari perbuatan dosa dan maksiat yang selama ini ia pernah lakukan.
2. النَّدَمُ (an nadamu), dia harus menyesali perbuatan dosanya itu.
3. اَلْعَزْمُ (al ‘azmu), dia harus mempunyai tekad yang bulat untuk tidak mengulangi perbuatan itu.
4. Jika perbuatan dosanya itu ada hubungannya dengan orang lain, maka di samping tiga syarat di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu harus ada pernyataan bebas dari hak kawan yang dirugikan itu. Jika yang dirugikan itu hartanya, maka hartanya itu harus dikembalikan. Jika berupa tuduhan jahat, maka ia harus meminta maaf, dan jika berupa ghibah atau umpatan, maka ia harus bertaubat kepada Allah dan tidak perlu minta maaf kepada orang yang diumpat.

Di samping syarat-syarat di atas, dianjurkan pula bagi orang yang bertaubat untuk melakukan shalat dua raka’at yang dinamakan Shalat Taubat, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْباً ثُمَّ يَقُوْمُ فَيَتَطَهَّرُ ثُمَّ يُصَلِّى ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللهَ إِلاَّ غَفَرَ اللهُ لَهُ ثُمَّ قَرَأَ هَذَهِ الآيَةَ (وَالَّذِيْنَ إِذَا فَعَلُوْا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوْا اللهَ فَاسَتَغَفَرُوْا لِذُنُوْبِهِمْ.
“Jika seorang hamba berbuat dosa kemudian ia pergi bersuci (berwudhu’), lalu ia shalat (dua raka’at), lalu ia mohon ampun kepada Allah (dari dosa tersebut), niscaya Allah akan ampunkan dosanya”.
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca ayat ini:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang apabila mengejakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu sedang mereka mengetahui”. [Ali ‘Imran : 135].”

Kembali pada fenomena melempar isu “test the water” yang sering kita dengar saat ini, kenapa saya katakan sangat kejam dan licik serta menimbulkan dosa berlipat?

Alih alih mau bertaubat, minta ampun dan minta maaf kepada orang yang telah kena buruk sangka dan fitnah tersebut, yang dilakukan malahan sebaliknya kembali melakukan fitnah lanjutan dengan melemparkan tuduhan bahwa yang menyebarkan fitnah tersebut adalah orang yang kena fitnah, dan yang menyebar fitnah bertindak seolah telah menjadi “#pahlawan” karena terbukti fitnahannya tidak benar, dan malahan melemparkan tuduhan baru kepada yang kena fitnah. Nauuzubillahi min zalik

Advertisements